Santri Minggat (Cerpen)

Wednesday



Siang yang cerah itu, aku memberanikan diri untuk mencoba berbica dengan ayahanda tercinta akan cita-cita keinginan yang aku dambakan sejak kecil, yaitu belajar ilmu agama di pesantren. “pak aku pingin belajar ngaji di pesantren” kataku waktu itu “iya kapan..? sahut ayah sambil tersenyum. Melihat ayah yang tersenyum aku pun merasa bahagia dan aku berfikir bahwa keinginanku mungkin akan direstui ayahanda. “secepatnya yah, aku pingin mondok” “iya kalau begitu besok kita berangkat.” Jawab ayah serius. Dengan hati yang berbunga-bunga dan rasa tak percaya aku termengu mendengar jawaban ayah. “besok” singkat sekali waktu persiapan yang mesti aku gunakan. Aku pun langsung bergegas menata pakaian, buku tas dan persiapan-persiapan lain yang mesti aku bawa esok hari ke pondok.

***

Ke esokan harinya aku pun sudah siap dengan perlengkatan yang sederhana untuk bekal di pondok. Pagi yang cerah dengan sejuknya angin yang bersemilir seakan mengingiringi langkah perjalananku tuk belajar. Tas kecil telah menempel di pundaku dan seikat jajanan ringan dalam kardus pun telah terikat siap aku bawa. Dengan hati yang riang aku bersama ayah berangkat ke pondok. Ayahku dulu juga pernah “nyantri” belajar ilmu agama di pesantren jadi tak heran jika beliau juga sangat semangat mengantar kepergianku pagi itu. 

Jalan yang panjang dan berliku telah terlewati, bukit-bukit kecil dan deretan pesawahan serta hutan yang lebat menjadi panorama indah yang mengiringi pandanganku di sepanjang jalan menuju pesantren. Setelah tiga jam menempuh perjalanan akhirnya sampai juga di pesanten, aku beserta ayah pun langsung menuju “dalem” untuk sowan dengan pak yai di pesantren itu. Langsung saja setelah bertemu dengan pak yai ayah pun menitipkanku, “pasrah” dengan pak yai, “Pak Yai, saya titip dan pasrahkan anak saya Sahal (panggilanku oleh ayah) untuk belajar dan ngaji dengan pak yai, jika nanti dia nakal dan tidak nurut dengan pak yai saya ikhlas jika nanti ia di pukul atau di beri hukuman”. “ngeh pak Hasan (nama ayahku) insyaAllah kami siap” jawab pak yai.

Setelah pasrah dengan pak yai ayah pun langsung pamitan dan kemudian pulang ke rumah, sedang aku di beri uang saku dua ratus lima puluh ribu rupiah dan ditinggal  di pesantren dengan seorang santri yang menemaniku mengantar ke kamar dimana aku akan tinggal. Aku di temani Toyo (santri yang menemaniku) pun muju kamar tempat untuk aku tidur, di pojok ruang lantai dua itulah kamarku berada. Baju dan buku dalam tas kecilku pun mulai aku masukan di lemari kecil bekas santri yang pernah tinggal di sana, banyak santri dari kamar sebelah datang dan menemani kami di kamar. bingkisan serta jajanan ringin dalam kardus pun aku buka tuk sekedar menjamu mereka “ini ada sedikit jajan, silahkan di buka” kataku pada teman-teman santri di kamar. “beneran” kata salah seorang santri bertanya dengan serius “iya, buka saja” kataku sambil menata baju ke lemari. Belum selesai aku menata dan merapikan baju-bajuku ke lemari, aku tersentak kaget melihat banyaknya santri yang datang ke kamar kecil itu tuk sekedar berebut jajanan yang aku bawa. Kurang dari lima menit berselang kardus yang penuh berisi jajanan itu pun habis, raib di perebutkan santri-santri di sini. Serasa tak percaya dan kaget ku melihatnya seraya bergumam dalam hati “lhaa, kok habis”. Tak percaya aku melihatnya, santri yang kata orang baik hati, berbudi dan mempunyai ilmu agama yang tinggi ternyata seperti itu. Heran ku melihatnya dan hanya bisa mengelengkan kepala serta melongo melihat kenyataan itu.

Selang beberapa waktu setelah teman-teman santri di kamarku kembali ke kamar masing-masing, aku mencoba memberanikan diri tuk bercakap tanya pada toyo teman sekamarku, belum sempat aku bertanya toyo yang merasa kasihan melihatku bengong jajanya dihabiskan pun menyahut padaku “maaf ya.., anak-anak pondok memang biasa sepertli itu, jadi jangan kaget”, “iya ndak papa” jawabku bertanya-tanya “biasalah kalau orang tidak pernah melihat makanan, sekali melihat ya kaya gitu...” sahut toyo sambil bercanda. Setelah ngobrol, bercanda gurau dengan toyo, aku mulai sedikit memahami akan kebiasaan-kebiasaan di pondok dan banyak hal-hal yang tidak biasa di rumah yang menjadi biasa di lingkungkungan pondok “iya seperti yang tadi. 

Setelah selesai berbenah dan ngobrol di kamar, toyo pun mengajaku tuk registrasi dan membuat KTP (Kartu Tanda Pondok) “sudah registrasi belum..? kalau belum mari saya antar” kata toyo sambil menunjuk tempat registrasi, aku yang belum tau sistem dan kehidupan di pondok dengan wajah bingung pun hanya bisa mengikuti arahan-arahan toyo, Santri yang  sudah tiga tahun ngaji di pondok pesantren ini. Aku pun masuk ke ruang pendaftaran sambil mulai memikirkan uang yang ada di saku kananku yang diberikan ayah untuk satu bulan itu. Seraya mengumam dalam hati “wah kok masih harus mendaftar..? saya kira sowan ke pak yai saja cukup dan tak ada pendaftaran” ku toleh kanan kiriku dengan tangan dalam saku menghitung uang yg tak banyak itu, ku lihat dalem pak yai serta jalan-jalan di area pesantren sambil berharap ayah masih ada di sana. Dan ternyata ayah sudah pergi tak di sini, ku ambil nafas panjang dan mencoba tegar masuk ke ruangan bertemu dengan pengurus pondok. “silahkan masuk mas...” kata pengurus menyambut kedatanganku  “iya” “mau registrasi..?” sahut pengurus sambil tersenyum “iya” “silahkan ini di isi terlebih dahulu..!!!”kata pengurus sambil mengulurkan selembar kertas registrasi “iya” begitu jawabku lagi. Setelah kertas registrasi terisi, dengan beribu bayang di benak aku bertanya sambil mengulurkan kertas registrasi itu “ini, registrasinya berapa mas..?” “oh iya, ini buat uang syahriah dan bayar listrik tujuh ribu rupiah dan untuk buat KTP enam ribu, jadi totalnya tiga belas ribu rupiah” sahut pengurus pondok bagian registrasi itu. “alhamdulillah cuman tigabelas ribu” kata ku dalam hati, murah sekali registrasinya. tak terbayangkan olehku dan dengan tersenyum ku pun berikan uang registrasi itu. 

Registrasi selesai dan seperti biasa aku yang hobi ngobrol dengan orang, menyempatkan diri untuk sekedar bercakap, berkenalan dengan pengurus pondok itu dan sedikit mencari informasi tentang sistem dan kebiasaan di sana. Setelah ku rasa cukup berkenalan, aku pamit tuk kembali ke kamarku “terimasih kang,” sapaan akrab teman-teman santri yang di tuakan di pesantren “aku pamit kembali ke kamar dulu” saat aku mau keluar ruangan, kang Ahmad (pengurus pondok itu) menyahut “oh iya, aku lupa barangkali mau beli kitab (buku untuk ngaji) silahkan bisa titip kepada kami”. Aku terhenti dan mengingat-ingat buku yang saya bawa, ternyata hanya beberapa saja dan terasa masih banyak yang harus di lengkapi. Aku kembali dan bertanya pada kang Ahmad tentang kitab-kitab yang harus aku siapkan untuk mengaji besok, “kitab apa saja kang yang mesti aku siapkan” “iya, kamu baru masuk ya..? jadi di kelas jurumiyah, kitab yang mesti di siapkan yaitu: safinah, jurumiyah, fasolatan dll, kalau mau titip besok saya belikan, kebetulan besok kami mau pergi ke kota membeli kitab.” jawab kang Ahmad “oh iya kang, saya titip sekalian... sekalian sama buku tulis” “iya” “..jadi totalnya berapa kang” tanya ku dengan semangat “.....ini dimbah ini, semuanya enampuluh tujuh ribu” “oh iya ini kang” ini... jawabku sambil memberikan uang.

Aku kembali ke kamar dan tak pedulikan lagi berapa uang yang aku punya dan berapa banyak kebutuhan yg aku perlukan, aku cuek dan meyakinkan diri bahwa aku bisa dan mampu. Dengan kepercayaan diri itu aku mulai berkenalan dengan teman-teman sekamarku dan mulai beradaptasi dengan mereka. Teriknya matahari di siang itu seakan menambah hangatnya perkenalan awal kami, dengan canda dan gurauan menambah akrab dan memudahkan kami memahami satu sama lain. Tak terasa waktu pun begitu cepat berlalu, tibalah saatnya tuk makan siang. Aku pun di ajak toyo teman sekamarku yang ternyata satu daerah denganku untuk berbelanja kebutuhan pokok untuk kebutuhanku satu bulan di pondok. “ayo hal... sudah saatnya masak untuk kita makan, sekalian kamu beli beras untuk persediaan” kata toyo sambil mengajak sum (iuran) teman-teman sekamar yang lain untuk masak bersama. “sum..sum..summ” setelah uang terkumpul, aku dan toyo mendapat tugas untuk belanja, sedang teman santri yang lain menyiapkan kayu bakar untuk masak nanti. Sesampainya di warung kami belanja beras untuk persedianku sebulan dan sayuran untuk makan siang ini. “ini berapa bu...?” “tiga ribu” percakapan kami dengan pemilik warung. Tidak banyak yang kami beli, hanya 10kg beras seharga 6.700 rupiah per kilo untukku sebulan dan seikat sayur kangkung, minyak serta garam dari uang hasil iuran untuk kami masak.

Setelah pulang, aku simpan beras tadi dalam lumbung bersama di kamar kami. Dan ku ambil segenggam beras untuk iuran masak siang itu dan mulailah kami memasak di dapur pondok kami. Semua santri memasak sendiri di sana bersama teman sekamar masing-masing, tungku yang hitam dan alat masak yang kecil sedrhana menjadi bagian yang tak terpisahkan di dapur kami, Bergantian mengantri tuk menggunakanya. Sungguh kesederhanaan itu mulai terasa dan masuk dalam sanubariku, teringat saat di rumah  tidaklah seperti itu, nasi dan lauk sudah siap di meja makanku tanpa repot berbelanja dan memasak. Semua dilakukan ibunda tercinta yang kini tlah tiada, aku merasa menyesal dulu jarang sekali ku membantunya. Hanya makan dan main saja pekerjaanku, tak pedulikan waktu. Aku hanya bisa terenyuh eluskan dada melihat dan tau semua ini, kehidupan yang tak pernah ku bayangkan sama sekali. 

Saat masakan telah matang, kami menyiapkan selembar daun pisang sebagai alas dan tempat makan kami. Nasi di keluarkan dari wadah cat tempat kami membawanya dari dapur dan sayur kangkung, di keluarkan sepertiga untuk makan dan selebihnya di simpan dalam wadah cat yang kami punya, disimpan dalam lumbung serba guna kami. Dengan melingkar kami bersama-sama bersiap makan masakan kami itu, aku yang tak terbiasa makan seperti itu sejenak termengu dan mengelus dada. Hingga toyo berkata padaku “ayo hal.. makan, nanti keburu habis..!!!” aku yang telah lapar pun tak ragu lagi untuk makan dan mencicipi masakan tadi. Ku ambil sesuap nasi dan dengan sigap memasukanya ke mulut seperti teman-teman yang lainnya “ahh..huu..pangaaah...panggaash” ternyata masih panas “wahhaaa..haaa... memang panas” sahut salah seorang temanku. “iya, kalau nunggu dingin ya keburu habis hal..” sahut teman yang lain. Haduh tak kusangka walau masih panas ternyata teman-temanku lahap sekali memakanya, aku tak bisa seperti mereka. Satu, dua, tiga suap ku makan dan mencoba terbiasa seperti teman-teman baruku itu. Nasi habis, makan pun selesali. Toyo pergi dg sebuah botol dan kembali membawa air “ini kalau mau minum...?” menawarkan kami minum. Teman-teman berebut dan aku yang terakhir “gluk..gluk...gluk” merasakan segarnya minuman itu. “air dari mana kang, segar sekali...” tanyaku usai minum “oh... itu dari kran di kamar mandi bawah” haduh, ternyata....

Belum sehari aku berada di pondok, sudah begitu banyak hal baru yang aku temui yang tak pernah aku jumpai di rumah, mulai dari gaya bicara santri, cara hidup, makan, dan lain sebagainya. Guyonan dan kesederhanaan mereka terasa akrab bagai kolega yang tak pernah di temui, aku merasa damai di sini. Hati terasa tenang, tentram dan mengalir bagai air pegunungan yang jernih nan murni, fikiran tak inginkan apapun selain menjalani kehidupan dengan apa adanya. Saat waktu telah sore semua santri, mengantri untuk seder mandi dan bersihkan diri. Tiada sekat diantara mereka, satu kolam besar menjadi satu-satunya sumber air untuk kami, dengan gayuh kecil di tangan kami bergantian memakainya. Ada yang mandi, yang mencuci, yang sekedar membasuh muka pun ada, banyak macam cara membersihkan diri. Aku pun menunggu giliran sepi sambil berfikir dan bergumam diri “wah... mandinya kok barengan tanpa sekat, tak seperti di rumah sendiri tanpa mengantri” satu hal yang tak biasa dan paling tidak aku sukai “mandi bersama tanpa sekat. Selang berapa waktu saat sepi tiba, saat lonceng mulai berbunyi tanda di mulainya pelajarn sore. Saat itu aku malai bisa mandi sendiri, dengan leluasa karena semua santri telah beranjak dan bersiap mengaji. aku tau jika tak bergegas aku akan telat mengaji. Tapi tak apa, ini hari pertamaku jadi tak akan ada hukuman” fikirku saat itu.

Selesai mandi, bersiap dan berangkat mengaji ternyata benar dugaanku saat itu, belum ada hukuman berlaku. Bukan karna aku anak baru atau apa, memang hari itu masih hari libur atau belum waktunya pengajaran. Waktu mulai pengajaran pada umumnya pondok pesantren adalah di mulai hari rabu, begitu juga dengan pesantrenku ini. Sedang hari pertama ku ke pesantren adalah hari senin, jadi masih aman.  Setidaknya masih ada dua hari tuk bersiap menerima pelajaran dan beradaptasi. Satu dua hari aku lewati, dengan sedikit memutar otak kanan-kiri, bersembunyi menghindar dari kebiasaan yang lazim di pondok yang masih tidak aku sukai, aku bertahan. Dan ketika berhadapan dengan masalah mandi, ...ahhh berat” aku masih tak terbiasa, hingga suatu ketika saat aku pergi berjamaah bersama toyo dan teman santri lainya ke masjid pesantren, sekilas aku mengamati dalem pak yai dan ku lihat di dekatnya ada berjejer kamar mandi yang ku fikir dapat aku gunakan. Ku hampira saja kesana dan mengambil air wudhu.. “wah ternyata bisa juga buat mandi, nanti mandi di sini aja ah ” dan ketemu... tak lagi ada masalah dengan mandi.

Waktu terus berjalan, tiap sore kami mengaji, malam mengaji dan subuh pun demikian. Ku jalani saja seperti santri umumnya. Pagi itu saat jadwal baru di tetapkan dan pembagian kelas di umumkan serta hukum pesantren mulai berlaku ketat, aku mulai memantabkan diri dalam hati tuk benar-benar mengaji. saat hukum peraturan pesantren di berlakukan,tegas terasa kedisiplinan dan keteraturan melekat erat di sana-sini. Terasa berat ku memulainya, rasa malas yang masih melekat dalam diriku, pola hidup yang biasa tak teratur dan gaya hidup yang mewah masih erat dalam diriku. Tak bisa aku pungkiri walau hati ini merasa damai dan tentram di sini, tapi realita yang ku hadapi tidaklah demikian. Uang saku yang mepet tak mampu menopang gaya hidupku, rasa malas dalam diriku tak bisa mengikuti peraturan yang berlaku dan umurku yang tak semuda santri-santri baru lainya membuat berat beban yang aku rasakan.

Baru beberapa hari di sini, uang saku yang mepet itu mulai menipis, habis dan ditambah ku mulai teringat ayah, bunda dan kolega di rumah. “rindu terasa... sedih, merintih hati merasakan sendiri tanpa keluarga, hidup dengan kekurangan dan tuntutan keteraturan. Akan tetapi tuntutan kemandirian, rasa gengsi dan maluku pada ayah karana telah meminta ke pesantren memaksaku tuk tegar dan bertahan. Aku pun mencoba tuk menghibur diri melupakan masalah-masalah diri ini dengan bermain ke bukit bersama toyo teman yang kini bagai kakak buatku. Sepintas aku lupa akan masalah itu, tapi realita kehidupan tak mampu tanggung sendiri, sungguh aku sudah bersiap hati dan merasa tenang di sini. Akan tetapi, berat sekali realita yang mesti di jalani. . .

Merenung sendiri, terbayang kolega dan lain sebagainya banyak sekali hal-hal yang kian hinggap dalam diri. Satu minggu ku di pesantren, aku menangis dalam kamar entah apa yang membuatku menangis, yang aku tau tak mampu ku menahan beban sendiri, hingga suatu ketika ku teringat akan satu kolegaku yang berada dekat di daerah pesantren. Melewati pagar ku diam-diam keluar pondok dan berniat ke tempat kolegaku yang berada di balik bukit seberang. Ku langkahkan kaki melewati bukit sendiri tanpa tau arah yang pasti, dan sesekali ku bertanya pada petani di jalan. Nekat aku pergi.... tak peduli apa yang terjadi nanti.

Satu jam berjalan sampailah di tempat kolega, ingin rasa hati bercerita akan keluh kesahku di pesantren akan tetapi apalah daya mulut yang terkunci dengan rasa gengsi dan malu yang menghinggapi tak samapilah hati padanya. Aku hanya terdiam membisu melihat kelega yang ternyata dekat dengan lingkungan pesantrenku itu dan gembiralah mereka melihatku ada di sana. “ah.... hingga akhir percakapan kami tak sempat ku mengadu apa-apa dan hanya nasehatlah yang aku terima, waktu telah sore aku pun berpamitan kembali ke psantren “pak..bu.., aku pamit kembali ke pesantren” “oh iya... tunggu sebentar” jawab kolega sambil menahan kepergianku “ini ada sedikit makanan dan uang... di bawa ya..!!!” “alhamdulillah..” gumamku dalam hati. “iya pak..bu..” “baik-baik ya hal kamu di pesantren dan nurut sama pak yai” kata-kata kolegaku mengakhiri percakapan kami melepas kepergianku.

Aku kembali dengan riang gembira, berbekal semangat dan segenggam bekal dari kolega, triknya matahari tak menurunkan semangatku menyusuri bukit tuk kembali ke pesantren. Dengan sesekali berfikir dan berangan untuk tetap bertahan dan terus belajar. Sesampainya di pesantren lumbung serba guna kami lah menjadi tujuan utamaku untuk sebatas menyimbang sedikit makanan yg di berikaan kogela tadi. Kala itu semangatku kembali dan kemalasan yang dulu melakat erat berlahan luluh pudar, aku mulai rajin dan kiat taat pada peraturan yang berlaku. Dulu aku selalu bangun subuh karena di “uprak” (dibangunkan) oleh pengurus dengan menggedor pintu dan jendela kamarku dan sesekali menyeret sarung tipis yang menjadi selimutku tiap harinya, kini aku mulai bangun tanpa harus di uprak lagi dan lebih awal. Sebelum subuh aku sudah terbangun dan mandi pagi, bersiap sholat jaah shubuh di masjid dengan Al Quran yang menemaniku menunggu adzan berkumandang.
Satu, dua hari berselang aku pun masih semangat, akan tetapi hari-hari berikutnya banyangan kian menghampiriku lagi, tiap siang saat aku sendi dan saat malam menjelang tidur. Dinginnya kamar yang tak beralas itu mengantarkanku tuk kekmbali merenung, sarung tipis yang ku gunakan sebagai selimutpun tak mampu menepis angan dan menghangatkan ku di malam itu. Anganku melayang-layang di rumah, sekolah, dan dunia kerja yang dulu erat dengan kehidupanku, semua yang telah hilang dan aku tinggalkan serasa kembali dan berteriak memanggil-manggil namaku, mengajak, menyeretku tuk kembali mendekap mereka. Hati merintih mendengar teriakan-teriakan itu, tetesan airmata pun tak kuasa ku tahan dan berjatuhan membasahi wajah yang pucat ini. Di sudut kamar aku bersembunyi menutupi kesedihanku itu, ku tutup wajah dan seluruh tubuh ini dengan sarung lusuh hadiah dari ibu saat aku “sunat” yang masih aku simpan dan ku pakai. “Dulu...kemaren,...saat itu aku.....” anganku berputar dalam kenangan masa lalu dan cita-cita saat duduk di bangku sekolah dulu.
Malam-malam yang panjang dengan beribu angan di kepala mengantarkanku pada satu titik dimana aku harus memutuskan satu pilihan sang teramat sulit dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada serta realita yang aku alami. Umurku yang tak muda, sekolah yang aku tinggalkan serta uang saku yang terbatas menjadi satu pertimbangan yang pelik ku putuskan, hingga panas terasa tubuh dan kepala ini yang membuatku tersungkur berbaring di sudut kamar yang tanpa alas itu. Merintih dan terus merintih sendiri, dan saat teman-teman santri datang seraya menyapa dan bertanya padaku “ada apa hal...???” aku mencoba tuk biasa, seolah tak terjadi apa-apa “ngak papa, aku hanya sedikit pusing.... pingin istirahat” begitu jawabku sambil menarik sarung tuk menyelimutiku. Lonceng di bunyikan tanda masuk waktu mengaji, semua santri bergegas ke aula. Aku masih di sudut kamar tak hiraukan yang terjadi dan saat teman-teman mengajaku mengaji “ayo hal berangkat...ngaji” “iya” jawabku, “ayo cepat....” kata seorang teman sekamarku sambil bergegas “iya, nanti...” begitu ucapku lagi sambil merintih sakit dalam hati. Aku tak mengaji dan hanya sendiri, seorang santri yang diutus ustadz pengurus pondok menghampiri dan bertanaya “kenapa ndak ngaji...?? sudah masuk tuh” “iya, maaf aku ijin...sakit” jawabku tak hiraukan santri tersebut. Ia pun kembali ke aula tempat mengaji dan tak kembali, mungkin ia ijinkan aku tu tak ikut mengaji siang itu.
Waktu terus berputar, siang menjadi sore dan malam menjelang, aku masih seperti itu dan rasa semakin tak karuan. Rasa tak betah kian terasa, jadwal mengaji pun selalu aku tinggalkan dengan alasan sakit dan sakit lagi. Hingga toyo berinisiatif mengajaku ke PUSKESTREN (pusat kesehatan pesantren) yang berada di dekat kamar mandi bawah pesantren, sekilas melirik bangunan yang terlihat kecil itu dan aku pun tak mau karna ku rasa bukan sakit itu yang aku rasakan. Dan aku mulai memberanikan diri tuk bercerita kepada toyo teman sekamarku itu “kang... sebenarnya aku ndak sakit, aku ndak betah” ucapku dengan malu dan nada pelan “ah..kenapa...??” jawab toyo dengan kaget dan muka cemberut “iya kang, aku teringat ayah di rumah” “ah itu biasa, itu wajar dan nanti juga hilang sendiri, aku juga pernah mengalaminya” ungkap toyo sambil menghibur dan sedikit bercerita pengalaman yang ia alami saat awal masuk pondok pesantern. 

Sejenak aku merasa tenang akan kehadiran toyo yang mencoba menghiburku serta sedikit memahami keadaanku saat itu, Akan tetapi aku belum puas dan benar-benar paham serta menerima keadaan itu. Selang beberapa waktu setelah perbincangan itu, aku mencoba mencari solusi lagi dengan memberanikan diri tuk sowan Pak Yai. Dengan langkah yang pelan dan rasa takut yang masih menghinggapi aku berjalan keluar kamar menuju dalem, akan tetapi aku belum benar-benar berani tuk bertemu pak yai dan di tengah perjalanan aku pun mengurungkan diri tuk sowan dan kembali ke kamar, merenung mencari solusi sendiri. Ternyata tak ada satu solusi ku dapati dan dengan nekat aku pun bangkit dan keluar kamar, akan tetapi aku merasa tak pantas dan kurang sopan tatkala aku menghampiri pak yai sendiri. Mondar-mandir keluar-masuk kamar itulah yang terjadi, hingga ketidak pastian fikiran dan beban itu mengahantarkanku benar-benar nekat dan tak berfikir panjang. Aku hanya berfikir “jika aku salah, kelak pak yai pasti akan menegur serta membenarkanku” dan semua yang melekat dalam diri pak yai adalah kebaikan. “tok...tok..tok... “assalamu’alaikum” ucapku pelan “walaikumsalam...” ucap seorang santri yang khidmah (nderek) di dalem pak yai sambil menghantarku masuk. Setelah di persilahkan santri di dalem tersebut aku pun duduk dan menunggu kehadiran pak yai yang sedang di dalam menyelesaikan hitungan tasbih rutinya. 

Di dalem aku tak sendiri, ada dua orang berpeci rapi yang sedang duduk di sampingku menunggu kehadiran pak yai. Aku tak tau siapa dan mau apa mereka, aku hanya menyapa dan berjabat tangan saja dengan sesekali berbincang sekedarnya menunggu kehadiran pak yai. Pak Yai pun datang dan menyapa kami dengan salam dan senyum yang lembut, dag..dig..dug.. jantungku berdebar entah takut, grogi, malu atau apa..? aku tak tau, tapi itulah yang terjadi. Setelah menyapa pak yai pun menanyakan nama dan tujuan kami, dua orang yang duduk di sampingku itu ternyata adalah warga dari kampung sebelah yang ternyata juga sedang mencari solusi dengan meminta pertimbangan dan masukan pak yai. Pak yai pun berbincang, menanyakan masalah mereka dan kemudian memberi masukan-masukan kepada mereka dengan gambaran sederhana realita kehidupan di masyarakat. Aku hanya diam menundukan kepala sambil menyimak pertimbangan-pertimbangan serta solusi pak yai kepada orang tersebut dengan sesekali mengangkat kepala melihat pak yai serta foto dan lukisan yang ada di sana. Pak yai pun telah usai dengan kedua orang tersebut dan tinggalah aku sendiri dengan pak yai saja, mulailah pak yai bertanya padaku yang masih menunduk dan terlihat tak asing baginya. Aku pun menceritakan sedikit masalahku di pesantren yang intinya bahwa aku tidak betah di pondok pesantren, tak bisa ku berbicara panjang lebar pada pak yai hanya itu saja yang bisa ku utarakan saat itu. Pak yai pun bertanya padaku “kenapa tidak betah.. ada masalah apa..??” “aku rindu dan kepikiran bapak di rumah” jawabku singkat, “iya rindu itu wajar, apalagi lama tidak bertemu. Semua santri juga pernah mengalami hal demikian, tapi tok ternyata mereka betah” jawab pak yai dengan lugas dan santai “atau ada yang kurang di pesantren..? iya memang di pesantren itu tidak seperti di rumah yang waktu bermainya lebih banyak, di sini ya adanya memang ngaji dan ngaji... tidak mempunyai fasilitas yang lengkap seperti di rumah, kamar mandinya sederhana dan kalau mau mandi ya harus mengantri, kamarnya juga tidak bagus seperti di rumah dan kalau makan ya apa adanya. Memang seperti itu” sahut pak yai menegaskan dan memberi perhatian kepadaku. “iya pak yai, tapi saya kangen dengan bapak di rumah... saya pingin bertemu bapak” sahutku berharap pak yai mau mengijinkanku pulang “saya minta ijin untuk pulang pak”  “iya jangan pulang dulu, di pesantren itu kalau belum 41 hari tidak boleh pulang bertemu keluarga. Begini saja kalau kamu kangen bapak coba kamu hadiahkan Fatihah di khususkan buat bapak, sebab fatihah itu akan sampai pada yang di tuju walaupun masih hidup atau sudah meninggal, insyaAllah rasa kangen itu akan terobati, dan jika kamu mempunyai nomer HP kakak atau keluarga bisa kamu hubungi dengan menggunakan telephon yang di sediakan di kantor pengurus untuk mengobati rasa kangen itu. Iya... begigu saja” jawab pak yai memberikan solusi padaku. Aku pun tercerahkan dan kemudian berpamitan dengan pak yai. Dengan rasa yang gugup, malu ku ucapkan salam dan mencium tangan pak yai dan berpamitan dan dengan badan membungkuk dan berjalan mundur aku keluar dari dalem dan kembali ke kamarku.

Sampai di kamar, aku pun mengikuti saran pak yai menghadiahkan fatikhah kepada bapak, dan tidak hanya bapak juga ku hadiahkan pada pak yai sendiri dan mbah yai (ayahnya pak yai yang ku lihat fotonya terpasang di dalem pak yai). Memang terasa lebih baik akan tetapi bukan hanya masalah kangen saja yang ku rasakan akan tetapi masalah kebiasaan dan ekonomi pun masih menjadi beban dalam pikiranku, yang tak mampu aku sampaikan kepada pak yai. Terfikir untuk menggunakan telephon yang di sediakan pengurus di kantor pesantren untuk santri, akan tetapi tiada ada satu nomor pun yang aku punya, tak pernah ku menyiapkanya.

Aku yang dulu pernah bersekolah di sekolah menengah pertama, walau masih belum selesai dan memilih pergi mengaji ke pondok pesantren kini terfikir untuk kembali dan meneruskan study di sekolah. dengan melihat perpimbangan-pertimbangan yang ada yakni diantara adalah kehidupan pondok yang sangat sederhana sangatlah berat dan dirasa tak mampu aku menjalaninya, betapa tidak aku yang dulu bersekolah dengan pakaian yang rapi, uang saku yang cukup dengan sarana-prasarana yang cukup baik serta makan yang teratur dan tinggal ambil kini harus menjalani kehidupan yang sederhana itu. Bayangkan di pondok ini saya harus benar-benar “prihatin” dan merubah 180 derajat gaya hidupku. Masalah makan yang sederhana dengan masakan apa adanya hasil iuran seribu rupiah untuk satu hari mungkin tidak begitu masalah buatku, karena dulu aku pernah aktif mengikuti kegiatan kepramukaan yang menuntut kesederhanaan dan dapat makan dengan apa adanya. Akan tetapi masalah mandi dan ekonomi menjadi pertimbangan yang berarti bagiku. Dimana di pesantren uang saku yang ayah berikan kepadaku hanya dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk hidup satu bulan. Yakni untuk beli beras, sabun, makan, jajan, dan belum kebutuhan-kebutuhan yang lain, terlebih aku yang juga seorang perokok tentunya menambah anggaran yang harus di keluarkan dan sangatlah tidak cukup bagiku. Sedang di pesantren rata-rata santri di berikan uang saku antara 200-300 ribu rupiah per bulan dan tidak boleh lebih, yang dimaksudkan agar tidak ada kesenjangan sosial antara santri yang satu dan lainya, antara kaya dan miskin semua sama sehingga tidak timbul rasa gengsi dan sombong. Sedang ukuran rata-rata uang saku tersebuta adalah mengambil kemampuan rata-rata santri yang miskin dan hanya kecukupan saja. Sungguh aku belum mampu untuk hidup dengan uang saku dan kehidupan yang demikian. 

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut dan latar belakangku yang dulu pernah bersekolah dan aktif di berbagai organisasi melihat kehidupan di pesantren yang sang seperti itu dan jauh dari yang aku bayangkan membuatku dapat menyimpulkan serta mengambil keputusan yang nantinya akan sangat menentukan untuk masa depanku. Aku berfikir bahwa “tatkala aku memaksakan untuk tinggal di pesantren dan mengikuti pola hidup di sana tentunya aku belum siap dan tidak akan kuat sedang tatkala aku pulang dan meninggalkan pesantren tentunya akan ada banyak kemungkinan terjadi, yang pertama kemarahan ayah dan keluarga tentu tidak dapat aku hindari, akan tetapi saya berfikir bahwa kemarahan sifatnya hanyalah sementara dan semarah-marahnya ayah pastilah tidak bertahan lama karena ia masih mempunyai rasa sayang dan kasihan pada anaknya jadi aku rasa saya masih bisa menanggung konsekuensinya. Selain itu aku berfikir bahwa usahaku selama dua tahun di sekolah akan sangat sayang jika di tinggalkan begitu saja dan aku masih memerlukan ijazah SMA untuk masa depanku kelak karena ketika aku masih di pondok aku tidak akan dapat memiliki ijazah SMA sebab selama apapun di pondok tidaklah akan mendapat ijazah seperti di sekolah. dan selain itu juga berfikir tatkala aku tidak di pondok, aku masih bisa mengaji di rumah dan belajar di organisai-organisasi yang dulu pernah aku tinggalkan jadi mungkin aku masih bisa mendapatkan ilmu-ilmu agama di sana,” dan setelah matang dengan berbagai pertimbangan tersebut akhirnya aku pun memutuskan untuk keluat dari pondok pesantren, walau tidak di izinkan pak yai akan tetapi setidaknya saya sudah minta izin dan saya rasa cukup karna tentu pak yai akan tau serta memahami akan keputusanku itu. “sudah saya putuskan,... aku akan pulang, aku akan menanggung konsekuensi yang terjadi kelak, jika ayah marah dan menyuruhku kembali mungkin aku akan kembali dan.... sudahlah yang akan terjadi nanti biar di fikirkan nanti saja. Yang jelas sekarang aku harus pulang dulu”.
Ku ambil tas kecil yang telah aku simpan di bawah lemari, ku usap dan bersihkan itu untuk menata baju-bajuku di sana, kitab dan buku-buku juga aku benahi dan rapikan di tas kecil itu. Dengan tanpa satu orang pun di sana aku merapikanya deng rasa gugup dan sepcepat kilat. Saat santri-santri yang lain sedang mengaji di aula pesantren dan sebagian di masjid, ku ambil secarik kertas dan sebuah pensil tuk menulis pesan untuk toyo dan teman-teman sekamarku. Ku tinggalkan sisa beras dan makanan diberikan kolegaku di sana, ku taruh saja secarik kertas itu di lumbung padi bersama dengan harapan teman-teman sekamarku akan membacanya kelak. aku pun diam-diam kelur melewati dapur yang kosong  dengan langkah yang setengah berlari aku kuluar dan menuju jalan raya, tidak ada santri yang melihatku. Aku aman dan sampailah di jalan raya desa dekat pondok, aku mulai bergaya biasa seperti bukan santri dan hanya orang biasa yang lewat dengan badan yang aku tegakan, tas yang aku pakai setengah lengan dan langkah yang santai aku terus saja berjalan. Sesekali terlihat orang-orang desa seakan memperhatikanku, akan tetapi aku tetap saja berjalan dan cuek hanya sekali menyapa “permisi pak...” seraya berharap bahwa ia tidak akan mengadukanku ke pesantren. Setelah setengah jam berjalan akhirnya sampai juga di jalan raya dimana ada angkot di sana, ku ambil sebatang rokok di saku kiriku, ku nyalakan dan menghisabnya sebagai penenang fikiran yang gugup dan tak karuan itu sambil menunggu angkot datang. 

Ku toleh-kanan dan kiriku seraya mengamati ada tidaknya santri atau orang-orang pesantren di sekitar jalan itu “wah... tidak ada orang pesantren. Aku aman” gumamku dalam hati. Setelah seperempat jam menunggu dan rokok di tanganku telah habis, akhirnya datang juga sebuah bis. Ku lambakaikan tangan kiriku dan men stop bis tersebut dan dengan cepat dan sigap akupun masuk dalam bis dan mencari kursi yang man sekira tak kelihatan dari luar. Denga was-was akan ada orang pesantren melihatku di bis dan uang yang pas-pasan untuk bayar angkot aku pun mencoba tenang dan bergaya biasa saja dengan sesekali menghitung harga naik angkot yang mesti aku bayar “enam belas ribu rupiah... kira-kira cukup tidak ya untuk naik angkot, sedang aku harus naik dua angkot untuk sampai di rumah” dan ketika kenek angkot menarik uang angkot itu, ku ulurkan saja uang sepuluh ribu rupiah kepadanya dan ternyata tidak di tarik lagi atau ada kembalian. “Iya mungkin hanya sepuluh ribu rupiah biaya angkot ini untuk tarif pelajar” fikirku kala itu.

***

Setelah dua setengah jam menempuh perjalanan yang panjang dan berliku dengan pepohonan di samping kanan-kiriku akhirnya sampai juga di kota tercintaku. Udara yang dingin dan rintik hujan yang turun seakan menyambut pelarianku dari pesantren, ku melepas keteganganku dengan menghirup nafas panjang udara segar kotaku, berharap akan tenang menghadapi ayahanda dan keluarga di rumah. Sampai di kota aku tak langsung pulang ke rumah, ku coba tuk menghampiri kakakku yang telah menikah serta bekerja di kota ini. Dengan nafas panjang aku menemuianya dan melihat respon yang ia berikan kepadaku, tentunya rasa heran dan tak percaya menyelimutinya “waiih kenapa kamu ada di sini....? kata kakakku “iya” “katanya kamu mondok..?” “aku tak betah mas” “kenapa...? di marahi ayah nanti lho” kakakku menakut-nakuti aku dan sejenak menasehatiku dengan rasa kesalnya. Aku pun hanya bisa tersenyum dan mencoba tuk menerima kekesalan kakaku itu serta berharap ayahanda pun akan melakukan hal yang sama seperti kakak, tiada tangan dan kata-kata kasar yang terucap.
Sekiranya cukup bertemu dengan kakak aku pun telah melihat dan sedikit belajar akan respon keluarga terhadapku, sedikit menambah kesiapanku menghadapi kemarahan ayahanda. Dengan sedikit merenung dang berfikir aku lanjut pulang dan bertemu ayah. Sesampainya di rumah tak berbeda jauh dengan kakak, ayah pun sedang bekerja di rumah dengan rasa takut yang tersimpan aku aku memaksa tuk tersenyum menatap ayahanda. Dengan sedikit kaget dan tak percaya ayah pun membalas senyum itu, entah pertanda apa aku tak berani menyapa dan langsung masuk rumah saja. Duduk di kursi tamu menunggu ayah menyelesaikan pekerjaanya yang sedang tanggung itu, selang beberapa menit ayah menghampiriku, ku raih tanganya yang masih kotor itu dan langsung ku cium saja sambil berbisik dalam hati “maafkan aku ayah” dan dengan nada yang hangat ayah menyapa, bertanya kepadaku “kenapa pulang...?” “heemmm... ndak betah yah” dengan senyum dan kata-kata halus kami berbicara, tak ada penjelasan yang panjang. Ayah mungkin sudah tau akan kapasitasku dan bagaimana aku “karna orang tualah yang paling tau anaknya” dan dari perbincangan singkat itupun aku paham dan melihat satu hikmah dan kesabaran besar dari ayahanda. “ya sudah kalau ndak mau kembali ke pondok ya kerja saja..!!!” pungkas ayahku menasehatiku. Seakan tak percaya tak ada kemararahan yang meluap-luap pada ayahku, memang ayahku adalah orang paling baik sedunia “my father is the best”.

“uuh... lega rasanya akhirnya sampai juga di rumah” bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Sejenak aku melihat di sekitar kanan dan kiriku, banyak yang berubah. Baru dua minggu di pesantren ternyata banyak sekali yang telah berubah seakan lima tahun tak melihat rumah. Dan satu yang selalu terngiang dan menjadi pertanyaanku “apa makna senyum yang ayah berikan kepadaku...?” seakan mengajak otak ini kembali berputar dan mencairkan bebatuan di dalamnya. Hari berganti aku mulai seperti biasa kalala dulu, keluar dan melihat tanah kelahiranku itu. Bertemu dengan saudara dan teman dekat di sana “haaii... sahal” “iya ton, apa kabar” “baik... ah, apa bener ini sahal” temanku tono heran melihatku di rumah. “iya ton” “katanya kamu mondok...? kok sekarang di rumah” “hemm...”aku hanya bisa tersenyum malu menjawabnya “wah,.. baru dua minggu di pesantren sudah tambah putih ya” “ah masa” “iya beneran, kayaknya tambah ganteng lho” “hahaa...” sekilas obrolanku dengan tono yang heran melihatku di rumah, wah sedikit keGe-eRan di katain ganteng sama tono.. huu... huuu. Dengen rasa tak percaya aku mencoba membuktikan kata-kata tono di rumah dengan sekilas melihatnya dalam cermin “wah... iya..ya ternyata beda dan lebih bersih dari sebelumnya” dalam hati ku bergumam sambil memutar cermin kecilku itu. Memang ketika di pondok jarang sekali aku melihat cermin, hanya kaca jendela lah yang menjadi tempatku bercermin dan sedikit terasa kini bahwa air wudhu itu membersihkan...!!! bukan hanya bersih tapi juga mensucikan. “kini wajahku bersih seperti model dalam iklan pasta gigi :D ... bersih bercahaya” “haahaa...haaaa..haaa” menertawakan diri sendiri yang keGe-eRan.

Kini aku telah beradaptasi dan kembali seperti biasanya, aktifitas keseharian pun ku jalani seperti biasanya. Mengaji tiap sore kembali aku jalani sebagai ganti aku menimba ilmu agama di pesantren, Kerja di siang hari kini lebih di tekankan oleh ayahku. Satu pilihan yang memang di tawarkanya untukku ketika tidak mau kembali ke pesantren, aku pun menghargai itu dengan mengikuti kata ayahku. Akan tetapi aku yang dari awal minggat dari pesantren berniat tuk meneruskan sekolah, masih ku tetap memegang teguh pendirian itu. Dengan mencari informasi tentang sekolah yang fleksibel serta bisa buat nyambi bekerja serta lain sebagainya aku masih giat bekerja. Teriknya matahari dan berat beban di pundak ku tahan tiap harinya, tetesan keringat dan nafas yang terengah-engah menjadi biasa bagiku. Kini wajah yang putih, bersih itu telah luntur oleh keringat yang menetes di wajahku, aku kembali seperti dulu hitam sawo matang.

bersambung.....

0 comments:

Post a Comment